Day 1

Sebelum Berangkat PKL

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun..lalu seperti biasa, aku pun menunaikan shalat subuh.

Setelah itu..langsung mandi.(he..kebalik nih..bukannya mandi dulu) :P.

Karena Tangerang adalah daerah baru untukku. Maka pukul 6.00 aku dan teman satu kamar kostku, Yanta. Langsung pergi mencari tempat makan untuk sarapan. Kami belum tau tempat mana yang murah. Akhirnya memutuskan untuk makan nasi uduk di pinggir jalan. Kalau diliat dari tempatnya sih..kayaknya harganya lebih murah dari tempat yang kemarin, pada saat kami tiba pertama kali di Tangerang ini. Setelah tanya-tanya..ternyata kompak banget sama warung nasi uduk yang berjarak beberapa meter. Harga nasi uduk + telur dadar 1/5 bagian == 6000 rupiah.(harga yang cukup mahal untuk mahasiswa berpenghasilan tidak tetap) 😦

Pukul 7.00 masih bersantai di kostan, karena menunggu 2 orang teman, yang sedang dalam perjalanan dari Bogor menuju tempat PKL. Mereka menitipkan barang bawaannya di kamar kami(Aku dan Yanta). Sehingga sebagian lemari di kamar kostan kami penuh oleh barang-barang bawaan para kaum Hawa ini. πŸ˜›

Tak lama kemudian mereka datang, dan mulai “merusuh” di kostan kami. Tiba-tiba ibu pemilik kostan keluar, dan bertanya siapa 2 orang wanita yang baru datang itu. Ibu kostan selalu ramah jika menyapa dan murah senyum(walaupun kadang-kadang suka malu sendiri karena giginya tanggal satu) πŸ˜›

Jam menunjukan hampir pukul 8.00, waktunya PKL dimulai. Kami pun bergegas menuju gedung BPPT MEPPO yang terletak jauh di dalam komplek PUSPITEK ini. Karena kendaraan hanya satu, maka pagi ini aku mengantar 2 temanku dulu, baru setelah itu menjemput Yanta di kostan.

Ditempat PKL

Sampai tempat PKL. Kami pun mulai melakukan instruksi-instruksi sesuai dengan arahan Bu Ita, pembicara pada saat pembekalan PKL Ilkom 44. Sebagai orang baru di tempat itu..maka kami pasang muka manis..dan menebar senyum ke semua orang yang kami temui. Tidak peduli siapa mereka, yang pasti tujuan kami hanya satu. Kami dapat diterima di tempat itu dengan baik. Senyum adalah hal yang paling mudah dan paling tulus yang dapat kami berikan. πŸ™‚

Beberapa saat kemudian, kami (4 orang mahasiswa Ilkom IPB, yang merantau ke Tangerang)bertemu dengan Direktur BPPT MEPPO, dan beliau mempersilahkan kami untuk mengikutinya. Menunjukan tempat dimana kami dapat bekerja..oops..belajar di tempat kerja maksudnya. πŸ˜›

Kami pun langsung menempati meja kami bekerja, dan tidak lupa memperkenalkan diri sambil pasang senyum manis ke karyawan satu ruangan (ini merupakan instruksi juga dari Bu Ita pada saat pembekalan PKL) πŸ˜›

Sekitar 30 menit, kami berempat hanya duduk-duduk di tempat kerja. Masih belum tau apa yang harus kami pelajari.Kami kira hari pertama kami akan menganggur dan di cuekin. Eh, ternyata beberapa saat kemudian Pak Direktur datang, dan mengajak kami berkeliling gedung..untuk memperkenalkan kami kepada seluruh karyawan disana.

Satu persatu ruangan kami masuki dan kami pun melakukan hal yang seperti Bu ita instruksikan pada saat pembekalan. Memperkenalkan diri sambil pasang senyum manis. Entah apakah terkesan terpaksa atau tidak. Tetapi kami tulus melontarkan senyum itu πŸ˜€

Oiya, ada satu hal yang aku kagumi dari Pak Direktur ini. Beliau tidak sungkan untuk membukakan pintu kepada kami. Menahan pintu agar tidak tertutup sampai kami semua masuk. Sebuah sikap yang sangat baik yang ditunjukkan oleh pemimpin.

Pantas saja, pada saat kami masuk dan didampingi Pak Direktur…semua karyawan memandang kami..dan membalas senyum kami..(walaupun ada sebagian kecil yang tetap cuek). Pak direktur ini amat dihormati sepertinya disini.

Lalu kami pun diajak berdiskusi mengenai topik yang akan kami kaji pada PKL ini. Diajak berkeliling melihat mesin-mesin yang harganya diatas 1 M semua. Mesin-mesin ini amat asing bagi kami, karena memang tidak pernh dibahas pada saat kuliah.

Setelah dipikir-pikir dan dicermati sepertinya topik yang kami kaji lebih ke arah teknik mesin dan elektro, sangat bersebrangan dengan jurusan kami sebagai mahasiswa ilmu komputer. Seharian penuh aku berusaha untuk memahami apa itu STL, G-Code, dan juga laser-laser yang akan digunakan sebagai proto typing. Ini merupakan dunia baru bagiku.

Hari pertama ini, merupakan hari beradaptasi bagi kami. Kami tidak tahu kapan jam istirahat, sepertinya karyawan-karyawan disini sesuka hati mereka jika ingin istirahat. Jadi terpaksa hari ini kami tidak makan siang. Huuf..

Yang lebih menyedihkan adalah temanku, Laras. Dia berangkat dari Bogor, pukur 5.30 belum sempat sarapan. Langsung menuju tempat PKL dan akhirnya kami baru beres di tempat PKL pukul 17.00. Tanpa minum seteguk airpun..benar-benar wanita super..hehe

Asrama Laras dan Rani

Selesai PKL hari pertama, Laras dan Rani segera menuju asrama yang disediakan oleh BPPT MEPPO. Aku dan Yanta menyusul kesana, membawakan barang-barang mereka yang mereka titipkan di kamarku.

sesampainya disana, Laras dan Rani tampak terlihat sangat lesu. Tidak ada semangat sama sekali.Aku dan Yanta pun masuk ke dalam asrama itu. Asrama itu hanya sebuah rumah tua yang cukup besar, kira-kira dapat menampung 8 orang. Terlihat barang-barang berserakan disana-sini, menandakan bahwa tempat ini kurang perawatan.

Gorden Misteri

Melihat kamar yang akan ditempati Laras dan Rani, miris. Suasana kamar yang teramat kotor, seperti bertahun-tahun tidak pernah terjamah manusia, ada bagian atap yang bolong sehingga menimbulkan kebocoran saat hujan turun. Tiba-tiba Laras mengajakku untuk melihat sesuatu. Sesuatu yang sedikit mencurigakan menurutku, karena dia mengajakku dengan nada sedikit tertawa tetapi juga ada raut ketakutan diwajahnya. Dibukalah gorden yang menutupi pemandangan ke belakang bagian rumah. Setelah kulihat, tempat ini semakin menggambarkan suasana horor. Settingannya seperti rumah-rumah horor pada film Susana dulu. Banyak lampu redup, belum lagi dihiasi lampu yang berkelap-kelip, nyala mati-nyala mati. semakin memperkuat suasana horor..hihi

aku hanya bisa tertawa dan mencoba memberikan sugesti positif pada Laras agar tidak berpikir macam2. Malam ini penghuni asrama itu hanyalah mereka berdua, karena penghuni yang lain sedang pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Yanta tetap menemani sampai kedua orang tua Rani datang menjenguk sekaligus membawa kebutuhan lain untuk Rani.

Saat orang tua Rani pulang, aku dan Yanta pun ikut pulang. Kami harus mempersiapkan diri untuk hari ke-2 PKL besok yang akan lebih seru. (semoga) πŸ™‚

Iklan
  1. Senang kan dapat pengalaman baru?
    Oiya, senyum tu senjata ampuh untuk mengawali sosialisasi. Jangan sekali-sekali memberikan senyum terpaksa karena bisa dirasakan orang yang menerimanya.
    Selamat PKL, semoga sukses πŸ™‚

    Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    • Iya..
      suasana baru, bertemu orang-orang baru.
      sangat menyenangkan bersosialisasi disini.

      Terima kasih Mochammad πŸ˜€

  2. gagal pertamax :maho

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: