Day 5 – Pintu Kamar Mandi di Asrama Horor

Hari Olahraga

Hari ini tidak seperti hari biasanya. Sebagian besar para ilmuan di BPPT ini mengenakan pakaian olahraga. Ternyata setiap hari jum’at, adalah hari olahraga di BPPT. Aku dan Yanta juga mengenakan pakaian yang sama.

Pertama kali datang, aku langsung menimbrung untuk bermain badminton bersama para ilmuan disini. Setelah main beberapa set, aku pindah bermain voli. Hmm..aku tidak terbiasa bermain voli, jadi tadi terlihat kaku sekali, dan menyebabkan tim yang aku masuki, mengalami kekalahan berturut-turut. 😦

2 kawanku, Rani & Laras tidak mengikuti olahraga kali ini karena mereka tidak membawa pakaian olahraga dari Bogor. Mereka hanya mengambil foto-foto kami sebentar, lalu kembali ke ruang kerja dan berseluncur ria di dunia maya. Aku kira hari ini full olahraga, tetapi ternyata tidak. Sekitar pukul 10.00 WIB, para ilmuan ini kembali ke ruangan masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya. Wah, aku dan Yanta tidak membawa laptop hari ini, jadi kamipun “menggangu” teman kami Laras dan Rani, lalu mengambil alih Laptop mereka. he πŸ˜›

Ilkomerz 44 Online (Gabut Mode)

Kami berempat merasa suasana hari ini tidak seperti suasana kerja biasanya. Passion untuk menyusun algoritma terbaik dalam memproses file STL (Stereolithography) hingga menjadi Laser Trajectory kurang terasa membara. Bagiku pribadi, dalam hal menyusun algoritma harus dalam suasana hati yang nyaman dan tenang. Biasanya ide-ide bermuculan pada saat aku sedang jalan-jalan (pengennya jalan-jalan terus.. :P). Jika ada satu ide terbesit dalam pikiranku, buru-buru aku mencari laptopku dan menuliskan beberapa baris kode program.

Hari ini aku hanya berseluncur membuka situs-situs jejaring sosial dan melihat banyak sekali teman-teman ilkomerz 44 yang sedang online, sibuk update status sana-sini (kayak gak ada kerjaan lain aja :P). Sepertinya mereka merasakan hal yang dengan kami berempat disini. Kami rindu Bogor, dan ingin menikmati weekend yang kami idam-idamkan jika bosan sedang melanda. πŸ˜›

Pintu Kamar Mandi di Asrama Horor

Sejak pagi tadi, Laras dan Rani ngomel-ngomel, ngedumel-dumel sendiri. Sekilas aku dengar dari ocehan mereka, kalau mereka sedang kesal dengan seorang penghuni asrama yang berperilaku seenaknya, tidak tahu toleransi, namanya pun sering disebut-sebut, dia adalah Mbak ***** (sengaja disensor, supaya gak terjerat pasal 27 ayat 3 UU ITE–Pencemaran nama baik) πŸ˜›

Kali ini, mereka kesal karena ulah Mbak ***** yang terlalu lama di dalam kamar mandi, disaat Laras dan Rani bersiap-siap untuk berangkat kerja, sedangkan jam menunjukan pukul 7.30 (mereka sama sekali belum mandi). Lebih kesal lagi, mereka mendengarkan Mbak yang satu ini bertelepon ria di dalam kamar mandi (Kayak gak ada tempat yang lebih bagus aja :P). Laras dan Rani merupakan penghuni baru, sehingga mereka segan untuk menegur Mbak yang satu ini.

Asrama yang mereka tinggali dihuni oleh 5 orang wanita. Sebenernya ada 2 kamar mandi di asrama itu. Namun 1 kamar mandi lagi, tidak pernah terpakai karena pintunya yang tidak bisa terbuka. Entah sudah berapa tahun kamar mandi ini tidak terjamah oleh manusia.

Selesai pulang kerja, aku dan Yanta diminta tolong oleh mereka untuk mendobrak pintu kamar mandi yang sudah lama tidak terpakai itu. Kamipun menyanggupinya. Aku dan Yanta akan pergi ke asrama mereka setelah kami packing barang-barang di kostan, karena malam ini kami berencana untuk pulang ke Bogor.

Waktu menunjukan pukul 18.45, kami sampai di asrama mereka. Sudah sangat sepi sekali disini, tidak banyak lampu yang menyala. Suasana horor kembali mencekam. Beberapa saat kemudian, Laras membuka gorden di depan asrama, dan menyuruh kami masuk lewat belakang asrama karena sudah tidak ada orang disini selain mereka berdua, dan mereka hanya diberi kunci belakang asrama.

Laras dan Rani, sudah sangat siap sekali untuk pulang ke Bogor, sepertinya mereka ingin meninggalkan tempat ini sesegera mungkin :P. Aku dan Yanta segera menuju kamar mandi yang akan kami buka pintunya. Pintu kamar mandi ini terbuat dari plastik, tidak memungkinkan jika kami dobrak, malah akan menimbulkan kerusakan parah.

Gagang pintu ini, sedikit terbuka. Strategi pertama adalah, mencopot gagang pintu ini, sehingga kami dapat menarik bagian besi yang menancap ke pinggir pintu dengan mudah. Laras dan Rani mencoba mencari palu untuk membantu kami membuka gagang pintu ini. Di asrama ini mereka tidak menemukannya, mereka juga sudah mencoba mengunjungi tetangga terdekat namun tetap tidak ada hasil.

Muncul ide dari Laras, untuk mempelajari cara kerja penguncian pintu ini terlebih dahulu. Kebetulan kamar mandi yang sering digunakan memakai pintu yang sama dan gagang pintu itu sudah terbuka. Akhirnya aku dan Laras, mempelajari cara penarikan slot besi untuk membuka pintu kamar mandi ini. Kami pelajari sekilas, dan beruntung kami langsung mengerti cara kerjanya. (Biasanya bobol komputer, ini malah bobol pintu) πŸ˜›

Disekitar kamar mandi ini, tidak ada lampu yang menyala. Sehingga terpaksa kami harus menyalakan handphone sebagai sumber penerangan. Aku berjongkok dan melihat ke dalam gagang pintu yang sedikit terbuka ini. Ahaa..sudah terlihat pemicu untuk menarik slot besinya. Tapi lubang pada gagang ini terlalu kecil untuk dimasukan tanganku. Aku meminjam peniti yang Rani pakai pada kerudungnya :P. namun peniti ini tidak cukup kuat untuk menarik pemicu slot besinya.

Berpikir sejenak, aku meminjam kunci motor Yanta. Lalu kumasukan kunci itu pada lubang gagang pintu yang terbuka. Sambil diterangi oleh handphone yang dipegang Laras, kucongkel pemicunya sedikit demi sedikit dengan kunci itu. Setelah mengait, langsung kutarik pemicu di pintu ini. “Kraaak..” pintu itu pun terbuka seketika.

Haa..betapa senangnya kami, akhirnya pintu itu dapat terbuka. Namun, tidak ada satupun dari kami yang berlama-lama melihat isi kamar mandi ini. Sepertinya kamar mandi ini sudah sangat lama sekali tidak terpakai. Buru-buru kami pindah tempat dari depan kamar mandi ini. Suasana horor mulai terasa oleh kami, namun tidak ada satupun dari kami yang membahas tentang ini. Tiba-tiba lampu di tengah ruang asrama mati. Padahal tadi menyala dengan baik dan tidak ada tanda-tanda lampu ini akan mati. Kami pun bergegas meninggalkan asrama ini dan pulang menuju Bogor dengan rasa sedikit horor akan asrama ini.

Semoga hari-hari selanjutnya Laras dan Rani selalu betah tinggal di asrama itu tanpa mengalami hal yang menyebalkan dan horor. πŸ˜›

Iklan
  1. hahahaha,
    emang horor itu mess nya chand..
    gw sering denger suara ketak-ketok ga jelas darimana.. πŸ˜€
    tapi biarkan sajalah..
    kan kan ga diganggu ini,
    banyak2 ngaji aja..
    kayanya penghuninya juga ga ganggu kalo kita ga sompral mah..
    hahahaha
    smoga aman selalu itu mess..

    • iya ran..
      kapan2 adain pengajian bareng di mess-mu itu..
      sekalian ketemu Mbak *****. hihihi

  2. kerennn uuyyy… seremm uyyyy

    • yang bakal merasakan serem setiap hari temenku, Laras & Rani. πŸ˜›

  3. masi bingung gw chan itu cara buka pintunya bejimane,,gambarin donk,hhe..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: